NAMANYA JOKOWI... atau...JOKO WIDODO...ORANG INDONESIA

Selasa, 08 Mei 2018 · 0 komentar


( Ditulis oleh Nani Surabaya )

Orang ini, dalam 3 tahun sudah *Berhasil Membangun JALAN TRANS PAPUA. _Yang Selama Ini Tidak Ada Satu Pemimpin pun Yang Mau atau Sanggup Membangunnya._*

Orang ini, dalam 3 tahun sudah *Memulai membangun JALAN LINTAS di Sepanjang Perbatasan MALAYSIA dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Utara Sepanjang 1900 Km.*
*Dia juga sedang Menyambungkan KALIMANTAN Dgn JALUR KERETA API.*

Orang ini, dalam 3 tahun sudah
*Memulai Membangun Menghubungkan KOTA di SULAWESI dengan JALUR KERETA API.*

Orang ini, dalam 3 tahun sudah *Memulai Membangun JALAN BEBAS HAMBATAN di SUMATRA Yang Menyambungkan dari ACEH Sampai LAMPUNG.*

Orang ini, dalam 3 tahun sudah *Berhasil Membangun 7 WADUK di NTT..., Membangun BANDARA dan PELABUHAN...,*
*BANDARA di Seluruh INDONESIA..., SARANA TRANSPORTASI LRT, MRT di JAKARTA dan PALEMBANG.*
*PELABUHAN di Seluruh INDONESIA.*

Orang ini, dalam 3 tahun sudah *Menjadi Pembicaraan Pemimpin-Pemimpin Dunia akan Kesuksesannya Menjaga Perekonomian Indonesia disaat Negara Lain Terancam Bangkrut.*

Orang ini, dalam 3 tahun sudah *Pandai Melobby Hasil Bumi Kita Yang di Barter Dengan Teknologi Tingkat Tinggi Negara Lain.*

*_Dan Banyak Lagi Hasil Kerjanya, Yang Kemarin Kita Anggap Mustahil Untuk Dikerjakan._*

*_Orang ini, di dalam Pikirannya Cuma Tersirat Ingin Membangun Negara dari Pinggiran Indonesia. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Orang Indonesia, Bukan Mayoritas atau Minoritas._*

*_Orang ini, Orang Indonesia, Putra Indonesia dari Kalangan Rakyat Jelata, Hanya Seorang Tukang Kayu saja._*

*_Orang ini, di dalam Dirinya hanya Tahu Kerja, Kerja, dan Kerja._*
*_Dia Hanya Senyum Jika Dituduh PKI._*
*_Dia hanya Diam Jika Diolok-olok Nama Hewan._*
*_Dia hanya Bungkam Walau di Do'akan Keburukan Atas Dirinya._*

*_Tapi, Dia Akan Marah Besar Jika Ada Orang atau Ormas yang Menghina Pancasila._* *_Dan Mengancam Ke-Bhinneka-an Kita._*

*Orang ini Memiliki Nama JOKO WIDODO, Orang Indonesia.*
*Tukang Kayu dari Rakyat Jelata.*
*Orang Seperti Inilah Yg Dulu Dijanjikan Ir. Soekarno Untuk Indonesia, "BERI AKU 10 PEMUDA, AKAN KU GUNCANG DUNIA."*

*Camkan..., hanya 3 Tahun Waktu yang dibutuhkannya.*
*Bagaimana Jika 10 Tahun?*
*Masih Banyak Kekurangan nya, Tentu iya. Karena Dia Baru 3 Tahun Memimpin Indonesia.*

*Semoga Beliau diberi Kesehatan dan Umur Panjang, Tetap Amanah dan Menjaga dan Merawat Rumah Bersama, INDONESIA.*

*DIRGAHAYU INDONESIA...,*
*Mari Dukung Ramai-ramai...*
*Viralkan Sampai Semua Pengguna Smartphone Ke Pelosok Desa, Kampung pun Dapat Membacanya...*

*Sebab hanya KEBENARAN Bisa Menerangi KEGELAPAN.*
*NEGERI Yang Luas Ini Tidak Boleh Dibiarkan Ditudungi oleh DUSTA Dalam Setiap PILKADA...*
*Supaya KE-"BHINNEKA"-AN Di NUSANTARA TERCINTA INI Tetap Memiliki "IKA" Yang Sejati.*

*DAN KERJA NYATA DIRASAKAN DAN DINIKMATI OLEH SELURUH MASYARAKAT INDONESIA.*
*MERDEKAAAA !!!!!* ✊✊✊✊✊

*NKRI - JAYA !!!*  💪💪💪💪💪
*PRESIDEN KU KERJA-NYATA !!!*
*SATU INDONESIA !.!.!.!.!*

APA SIH PADAT KARYA TUNAI ITU

Rabu, 07 Maret 2018 · 0 komentar

"PADAT KARYA TUNAI (CASH FOR WORK)"

Apakah setiap desa di Indonesia wajib melaksankan Program Padat Karya Tunai Desa?    lalu bagaimana mekanismenya ?

Sudah jelas dalam SKB 4 Menteri bahwa penggunaan Dana Desa di fokuskan pada pengurangan angka pengangguran, stunting ( gizi buruk ),urbanisasi dan kesenjangan. Artinya setiap Desa wajib Padat Karya Tunai ( Cash for work ).

Lalu bagaimana jika desa tersebut tidak menggunakan Dana Desa dalam hal pembangunan karena telah menggunakan sumber dana lain?? Apakah masih wajib harus padat karya ?

 Sejauh yang saya baca, di dalam Surat Keputusan Empat Menteri. Saya belum pernah melihat bahwa seluruh pembangunan desa harus padat karya, Artinya jika desa anda menggunakan sumber dari Alokasi Dana Desa ( ADD ) untuk pembangunan. Saya kira tidak harus padat karya !!!

Salah satu contoh :
desa anda mendapakan bantuan dana dari Kabupaten/Kota. Anggap saja 200 juta untuk Rehab balai Desa atau pembangunan balai Adat.
dan pertanyaanya sama seperti di atas tadi.
Apakah wajib atau tidak desa padat karya???

Saya katakan tidak.

Kenapa..????

Alasanya cukup simple !!!

Coba baca kembali SKB 4 Menteri.

Dalam diktum (1) angka (6) huruf (c) di katakan :

Fasilitasi penggunaan Dana Desa untuk kegiatan pembangunan Desa paling sedikit 30% (tiga puluh persen) wajib digunakan untuk membayar upah masyarakat dalam rangka menciptakan lapangan kerja di Desa.

Artinya berdasarkan diktum tersebut,..

kita hanya wajib menfasilitasi dana yang bersumber dari Dana Desa dan bukan dari sumber lainya misalkan PAD,ADD atau PBP.

Jelas kan !!

Lalu seperti apa mekanisme pelaksanaanya padat karya dan bagaimana metode kerjanya ?

Sebelum melaksanakan program ini………..

ada baiknya anda memahami metode cara perhitungan HOK nya.

ini penting !!!

Seperti inilah ketentuan perhitunganya Harian Orang Kerja

Petama : jumlah 30% untuk pembayaran HOK dihitung dari jumlah Dana Desa yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan Desa.

Kedua : jumlah 30% untuk pembayaran HOK mencakup pembayaran tenaga kerja untuk mengangkut bahan material untuk bangunan, penyiapan lokasi bangunan, dan pelaksanaan kegiatan pembangunan.

Ketiga : jumlah tenaga kerja mencakup tenaga kerja ahli, pembantu tenaga kerja ahli serta tenaga masyarakat Desa setempat yang ditetapkan sebagai sasaran Padat Karya Tunai di Desa.

Keempat : besaran upah tenaga kerja dihitung berdasarkan batas bawah dan batas atas upah tenaga kerja yang ditentukan berdasarkan hasil kesepakatan musyawarah Desa dengan mengacu pada peraturan bupati/walikota tentang besaran upah tenaga kerja (Hari Orang Kerja/HOK).

Nah, setelah anda memahami panduan diatas barulah kita masuk ketahap perencanaan pelaksanaan padat karya tunai desa.

 
Inilah 3 cara melaksanakan padat karya tunai Desa

 1 . Pendataan Calon sasaran Padat Karya Tunai

Jangan sampai anda keliru ketika anda melakukan pendataan calon penerima, Karena tujuan program padat karya ialah pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan daya beli maaf kaum Marjinal / Rumah Tangga Miskin (RTM) dalam hal kebutuhan dasar mereka.

Kumpulkan data RTM dan mulailah mendata.

Bisa juga meminta bantuan Kepala Dusun atau RT untuk terjun langsung ke rumah rumah guna memastikan apakah mereka layak menjadi pekerja atau tidak.

Dan bila tidak bisa.

Bisa menggunakan data dari Pendamping PKH dengan meminta data langsung ke mereka.

Kemungkinan mereka dapat membatu dalam penyiapan data penerima PKH,KIS,KIP atau Rastra.

Selain itu, berikut ini beberapa kreteria yang layak masuk sebagai pekerja Padat Karya Tunai (PKT) Desa :

~ Penganggur, setengah penganggur dan warga miskin.

~ Pencari nafkah utama keluarga.

~ Laki-laki, wanita dan pemuda usia produktif dan bukan anak-anak.

~ Petani/ kelompok petani yang mengalami paceklik dan menunggu masa tanam/panen.

~ Tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan (diputus hubungan kerja).

2. Tinjau Kembali Dokumen RKPDes dan Revisi.

Saya paham !!!

Bahwa penyusunan dokumen Rencana Kerja Pemerintah Desa ( RKPDes ) disusun awal juli sampai september tahun berjalan. Tetapi, apakah ia kalau perintah SKB aja baru terbit 13 Desember 2017 dan upah 30 % udah masuk kedalam RKPDes untuk 2018.

Gak masuk akal banget kan !!

Artinya anda merevisi RKPDes tersebut dengan membubuhkan upah 30% untuk padat karya tunai desa,aturan SKB 4 Menteri sebagai Dasar Hukum RKP dan Memasukan calon tenaga pekerja sebagai penerima PKT.

Dan seandainya RKPDes itu tidak di revisi tentu anda tidak akan bisa melaksanakan Program padat karya tunai Desa dan pasti Dana Desa nya tidak akan cair.

 3. Revisi APBDes dan Penyusunanya

Bagi Desa yang telah menetapkan APBDes atau sedang dalam tahap penyusunan APBDes dan di dalamnya belum tertera upah sebesar 30% untuk nilai pembangunan yang menggunakan Dana Desa sebaiknya di revisi.

Karena saya yakin,

Jika dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa anda yang telah anda syahkan bersama BPD dan kemudian di croscheck kembali serta nilai upah belum mencukupi paling sedikit 30% pasti APBDes anda akan di tolak oleh pihak PMD.

Jadi lebih baik anda revisi kembali..

Bagaimana caranya :

Hitung semua nilai bangunan yang telah dianggarkan menggunakan Dana Desa.

Apakah telah memenuhi persyaratan atau belum !!!

Contoh :

Anda membangun Jalan Onderlag  di Dusun ( A) sepanjang 1.000 x 3 meter.

Rencana Biaya Anggaran ( RAB ) yang tertera sebesar 250 juta.

Dengan rincian sebagai berikut :

Bahan  : 150 juta
Alat     :  50 Juta
Upah   :  50 Juta
Total   : 250 Juta

Nah,dari RAB diatas kan kita bisa menghitung berapa persenkah upah tersebut.

Begini rumusnya cara menghitungnya :

Upah : Total x 100

50 juta (dibagi ) 250 juta (dikali ) 100 =  20 % ( tidak memenuhi syarat)

Jika belum memenuhi syarat ada baiknya anda konsultasikan kembali ke Tenaga Ahli (TA) Kemendes.

Sampai benar benar upah mencapai 30 persen.

Oy, itu baru dari 1 item bangunan saja lo..

Sedangkan menurut aturan kan semua dari nilai bangunan yang menggunakan Dana Desa.

Jadi bila ada nilai katakan :

Bangunan A = 20% upah
Bangunan B = 36% upah,dan
Bangunan C = 30% upah.

Bila di total nilai upah masuk 30 % juga bisa.

Tetapi cara menghitungnya sama dengan yang diatas.

Caranya jumlahkan semua dulu nilai upahnya dari beberapa bangunan kemudian bagi dengan jumlah nila total bangunan lalu kali dengan seratus.

Kalau nilai telah mencapai nilai syarat padat karya tunai desa artinya telah syah dan APBDes anda bisa di syahkan sebagai bekal pencairan.

Kesimpulan :

sebenarnya dulu pernah dilakukan program padat karya dan beras sebagai upah pembayaranya.

Ini sangat bagus demi menunjang kebutuhan pokok masyarakat yang kurang mampu, pengangguran serta keluarga yang mempunyai anak maaf stunting.

Untuk itu semoga artikel ini bisa membantu wawasan terutama anda yang sedang ikut dalam mengawasi program ini, agar bisa berjalan dengan baik dan sesuai apa yang di harapkan Pemerintah.

sumber : updesa. com

GIVE AND GIVE, NOT TAKE AND GIVE

Senin, 05 Maret 2018 · 0 komentar

GIVE AND GIVE

Ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing galak.

Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar domba-domba petani.

Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tapi ia tidak mau peduli.

Suatu hari anjing-anjing itu melompati pagar dan menyerang beberapa domba, sehingga terluka parah.

Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.

Hakim itu mendengarkan cerita petani itu dan berkata :
"Saya bisa saja menghukum pemburu itu,  dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya, tapi Anda akan kehilangan seorang sahabat dan mendapatkan seorang musuh. Mana yang kau inginkan, sahabat atau musuh yang jadi tetanggamu?”

Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang Sahabat.

"Baik, saya akan menawari anda sebuah solusi yang mana anda harus menjaga domba-domba anda, supaya tetap aman dan ini akan membuat tetangga anda tetap sebagai teman”.

Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.
Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim.

Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada 3 anak tetangganya itu, yang mana mereka menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.

Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya. Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah mengganggu domba-domba pak tani.

Sebagai rasa terima kasih atas kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasil buruan kepada petani.

Sebagai balasannya, petani mengirimkan daging domba yang sudah dimasak buatannya.
Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi Sahabat yang baik.

*
Saudaraku...

Law of Attraction, sunnatullah di alam semesta, berbunyi :
"Apabila Anda melakukan kebaikan, Anda pasti akan menerima balasan kebaikan yang lebih besar.

Apabila Anda melakukan kejahatan, maka pasti Anda akan mendapatkan kejahatan yang setimpal.

Jika Anda berkumpul dengan serigala, Anda akan belajar melolong.

Tapi jika Anda bergaul dengan Rajawali, Anda akan belajar cara terbang mencapai ketinggian di angkasa.

Kesimpulan yang sederhana tetapi benar, bahwa : "Anda akan menjadi seperti orang yang bergaul dekat dengan Anda".

Persahabatan tidak ada sangkut pautnya dengan harta, jabatan dan popularitas.

Persahabatan yang di dapat dari uang, pangkat dan ketenaran bukan persahabatan sejati, melainkan hanya pergaulan dangkal yang penuh kepalsuan, yang egois, materialis, dan penuh kebohongan.

Persahabatan sejati lahir dari kasih sayang, ketulusan, kepercayaan, kejujuran, kesetiaan dan kebersamaan.

Itu sebabnya persahabatan itu indah, tidak dapat di nilai dengan harta benda, dan tidak dapat di perjual-belikan.

Sebuah ungkapan :
"CARA TERBAIK UNTUK MENGALAHKAN DAN MEMPENGARUHI ORANG ADALAH DENGAN KEBAIKAN".

"GIVE AND GIVE,
NOT TAKE AND GIVE"

MENIKMATI MANUVER CAK IMIN

Minggu, 04 Maret 2018 · 0 komentar

Oleh: Abdul Arif

Coba kosongkan hati dari prasangka lalu lihat manuver Cak Imin.

Betapa cerdik dia berayun dari satu menuver ke manuver lainnya tanpa meninggalkan prinsip yang dipegangnya. Hari ini ngobrol santai dengan Prabowo, kemarin jalan-jalan naik kereta dengan Jokowi, sebelumnya hadir di pengajian bareng Anies Baswedan, besok cipika-cipiki dengan AHY. Dia nyaris tak punya sekat dengan elit politik mana pun. Mungkin karena berkah silaturrahmi semua menerima dia dengan happy.

Kakinya ringan melangkah ke sana ke mari karena pundaknya tak memikul beban masa lalu. Dia bukan bagian dari rezim Orde Baru. Juga tak memikul beban bisnis jamaknya politisi pengusaha. Tak dihantui pelanggaran HAM. Tak punya masalah dengan demokrasi. Tak terikat persekutuan dengan klan tertentu, termasuk para naga itu.

Nasionalismenya tak diragukan oleh kalangan tentara. Visi demokrasinya diakui aktivis NGO. Pengalamannya paling matang di generasinya. Abdul Muhaimin Iskandar adalah ketua parpol termuda dari 10 partai pemilik kursi di senayan.

Jika ada yang melihat dengan sinis, wajar karena dia bukan anak presiden. Kalau ada yang nyinyir, maklumilah karena dia muncul dari rakyat biasa. Jika ada yang meremehkan bisa dimengerti karena dia bukan pensiunan jenderal. Toh, kelak Indonesia akan menilai setiap anak bangsa dari jejak prestasinya.

Sejarah mencatat Cak Imin sebagai aktifis mahasiswa yang turut menumbangkan rezim korup Orba. Dia wakil ketua DPR RI termuda yang terlibat aktif pada semua kebijakan penting yang diambil DPR/MPR di masa genting 1999-2004, seperti amandemen konstitusi; pencabutan Dwi Fungsi ABRI; pemisahan Polri dari TNI; dst. Muhaimin adalah ketua parpol yang aktif mendorong anggotanya di parlemen melahirkan UU Desa (ketua Pansusnya: Lukman Edy, anggota DPR dari PKB) dan RUU tentang pemberian insentif bagi lembaga pendidikan agama.

Dan jejak itu belum akan usai ditulis. Mungkin hingga 10-20 tahun mendatang dia akan jadi buah bibir di jagad kepolitikan Indonesia.

Maju terus Cak!

Cak Imin dan PKB

Sabtu, 03 Maret 2018 · 0 komentar

Politik Baliho dan Semantikal Cak Imin
Oleh Agus Hernawan

Di Rakernas IV dan HUT ke-6 NasDem,  Surya Paloh mendeklarasikan Jokowi sebagai capres 2019. Setelah itu, berturut-turut Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Golkar, Partai Persatuan Pembangunan, Hanura, Perindo, dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) mendeklarasikan mantan Walikota Solo ini. Belum lama, Rakernas III PDIP merekomendasi Jokowi sebagai capres 2019.
Siapa wakil Jokowi, masih tanda tanya. Juga ada yang jadi tanda tanya lain di publik. Mengapa PKB masih diam?
Politik Baliho
Baliho Cak Imim Cawapres 2019 bertebaran di ruang-ruang publik se-Republik. Secara visual, baliho Cak Imin menjawab pertanyaan di atas (“Mengapa PKB masih diam?”). Politik baliho ini juga jadi pesan verbal ke Jokowi. Pesan yang sama juga dikirim ke Tengku Umar. “Jika belum paham mau ane, baca baliho saja!”
Lewat politik baliho, PKB tengah memainkan positioning. Posisi historis PKB di Pilpres 2014 sangat jelas.  Selain memberi warna hijau di kubu Jokowi-JK yang mayoritas diisi partai nasionalis, PKB berperan memenangkan Jokowi-JK di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta D.I Yogyakarta.
Tandem PDIP-PKB di Pilpres 2014 lumayan sukses menyatukan santri-abangan, nahdiyin-marhaen. Apa yang tak bisa dilakukan PPP di kubu Prabowo-Hatta, termasuk PAN di D.I Yogyakarta.
Dilihat dari sisi political marketing, strategi canvassing lewat baliho langsung menohok banyak hal. Pertama, ia coba memagari “rumah” yang jadi basis pendukung tradisional PKB dari dikuasai tamu politik musiman.
Kedua, ia menegaskan maunya PKB. Posisi lima besar perolehan suara di 2014 dengan mengantongi 8,04 persen kursi di DPR jelas modal politik yang cukup buat PKB. Kursi cawapres bisa dianggap realistik. Ketiga, melalui politik baliho, target realistik itu di-direct selling ke dalam ruang-ruang kesadaran pemilih.
Menarik ialah simultanitas atau keserentakan baliho Cak Imin. Ini membuat cara komunikasi politik yang konvensional jadi unik dan nakal. Publik dibuat terpengarah. Seperti kisah Bandung Bondowoso membangun candi dalam semalam. Alhasil, keunikan dan kenakalan itu segera ditransfer ke dunia daring. Memiral lewat kicauan di group-group WhatsApp.
Agaknya, Jokowi dan partai pendukungnya perlu  berhitung.  Dan, ini bisa jadi dilematis. Di satu sisi, PKB sudah mematok harga untuk mengantarkan Jokowi ke tujuan dua periode. Di sisi yang lain, meniadakan PKB jelas akan menyisakan ruang kosong yang sulit tergantikan.
Semantikal Cak Imin
Pertanyaan berikutnya, ke mana PKB sekiranya tidak di gerbong Jokowi pada Pilpres besok?
Pascapolitik baliho, muncul berita rencana pertemuan Prabowo Subianto dengan Muhaimin Iskandar (Cak Imim). Apakah pertemuan itu cuma membahas soal Pilgub Jateng sebagaimana diberitakan? Tentu tidak. Koalisi PKB dengan Gerindra memenuhi syarat Presidential Threshold.
“Jika Prabowo Subianto dan Cak Imin dipasangkan sebagai capres-cawapres pada Pilpres 2019 mendatang, niscaya pasangan ini akan bisa secara bulat merebut suara di Pulau Jawa.” Pernyataan Arief Poyuono, Wakil Ketua Umum DPP Gerindra, mempertegas jawaban pertanyaan di atas.
Sekiranya PKB bertemu Gerindra, diikuti lahirnya koalisi Demokrat-PAN-PKS, Pilpres 2019 bisa saja diramaikan tiga pasang kandidat. Tiga pasang kandidat lebih menyegarkan. Broad-based participation minimal tidak begitu tajam terpolarisasi. Namun, bagi kubu Jokowi, kontestasi dengan tiga pasangan kandidat  lebih menguras energi. Atau, malah jadi boomerang.
Pilgub DKI kemarin sudah mengajarkan prestasi kepemimpinan, ditambah kegaharan kicau di dunia daring, belum cukup.  Perlu nyali bertarung dan berbecek-becek di basis riil, terutama untuk memenangkan Pulau Jawa. Kehadiran partai baru (PSI dan Perindo) di kubu Jokowi tidak cukup sebagai katub penyelamat. Lewat simultanitas politik baliho,  PKB menunjukkan mereka punya militansi itu. 
Hal senada jika Pilpres jadi gelaran tarung ulang Jokowi versus Prabowo. Pernyataan Arief Poyuono bisa terbukti. Penguasa basis di Jawa Barat dan Jawa Timur dengan broad-based participation terbesar pertama dan kedua di Indonesia adalah Gerindra dan PKB. Di Jawa Tengah, pada Pileg 2014, perolehan suara PKB urutan ketiga setelah PDIP dan Golkar. Perolehan suara PKB hanya selisih tipis dengan Golkar, (Golkar: 2.497.282 suara,
PKB: 2.305.444 suara).
Untuk Jawa Tengah, faktor kepemimpinan Ganjar yang dinilai mengecewakan dapat jadi deposit negatif secara politik ke depan. Di kasus Semen VS Samin misalnya, Ganjar justru membuat blunder. Ia menertawakan aksi semen kaki petani yang dimotori kalangan Samin. Sebaliknya, PKB dan Gerindra menunjukkan sikap responsif. Implikasi jangka pendek ialah Pilgub Jawa Tengah 2018 nanti. Koalisi PKB-Gerindra-PKS-PAN punya peluang besar memenangkan Jawa Tengah. 

Di tengah menguatanya populisme agama, diperparah kegagalan KPU mendorong kontestasi elektoral kita menjadi apa yang disebut Sherry A. Arnstein sebagai cornerstone of democracy, posisi Cak Imin dan PKB menjadi sangat penting. Mengabaikan Cak Imin dan PKB bisa berarti “bunuh diri” bagi Jokowi.
Nah, selamat berhitung Pakde. Dan, segera kita bikin baliho.

Kenapa Cak Imin (PKB) hanya mencalon sebagai Wapres di 2019 ?

Rabu, 21 Februari 2018 · 0 komentar

Pencalonan Wapres Cak Imin, Kesantunan dan legacy Ala PKB

Oleh : Noura Fadhilah

Cawapres jomblo menjadi ledekan yang begitu sering kita dengar ahir-ahir ini baik di stasiun TV atau dalam diskui-diskusi publik terkait Pilpres yang di tujukan kepada Cak Imin dan PKB. Banyak Sindiran-sindiran lain yang juga harus di terima oleh Cak Imin dan oleh banyak kader PKB, atas keinginan dan harapan mereka pada Ketumnya, agar Cak Imin bersedia mencalonkan diri menjadi wakil presiden di 2019 nanti.

Saya rasa tidak ada satu pun partai atau kader partai yang tidak mengharapkan ketum partainya bisa meraih posisi presiden atau wakil presiden. Karna itu berarti, harapan dan cita-cita partai mereka tentang Indonesia akan menemukan realitanya, jika pimpinan partai mereka menjadi orang nomer 1 atau nomer 2 di Negri ini.

PKB adalah partai yang lahir dari Doa dan buah pikiran para Kiyai dan ulama. Sebagai partai yang lahir dari rahim NU, tentunya ada kesantunan ala Islam tradisional yang di ajarkan di pondok-pondok pesantren yang juga di wariskan dan menjadi WAY(jalan, arah atau cara) bagi PKB dalam Merespon atau memaknai sesuatu.

Ledekan sebagai cawapres jomblo mungkin terlihat begitu miris dan cukup menyedihkan. Di katai belum ada yang meminang tapi sudah menyatakan diri akan maju sebagai cawapres.

Tapi PKB punya argumentasi rasional sendiri atas pilihan sikap nya yang di tertawai dan menjadi bahan ledekan partai lain dan banyak pihak.

Jika para Kader PKB dengan Percaya diri mendorong Ketum nya untuk maju sebagai calon Presiden, apa kah itu tidak akan di maknai, bahwa PKB merasa kepemimpinan Presiden Jokowi ini memiliki banyak persoalan sehingga tidak perlu diberikan kesempatan kembali untuk 2019.  Akan tetapi, PKB memilih mengedepankan kesantunan dan menekan ego kepartaian. Hanya merasa cukup puas jika bisa mendorong Ketum partainya menjadi Cawapres Presiden jokowi di pemilu 2019, Karna PKB memberikan apresiasi yang baik atas kerja pemerintahan Presiden Jokowi.

Kesantunan dalam budaya keseharian bangsa kita, ini semakin hari semakin tergerus. Nilai-nilai kesantunan berganti dengan sikap egaliter atau kesetaraan dalam segala hal. Bukan ingin mengembalikan nilai feodalisme, namun mendidik anak bangsa tidak cukup hanya dengan retorika tanpa legacy.

Pilihan PKB menyebutkan harapannya dan mendorong Ketumnya menjadi wakil presiden Jokowi, karna PKB menghargai kepemimpinan presiden Jokowi. Karna bagaimanapun Presiden Jokowi juga manusia yang memiliki perasaan, bukan malaikat apa lagi robot. Presiden Jokowi sebagai manusia biasa, saya rasa tentunya berharap semua partai mitra koalisinya yang hari ini menjadi bagian dari pemerintahannya, bisa kembali mendukung presiden Jokowi di pemilu 2019 nanti, termasuk PKB pastinya.

Ada nilai-nilai baik yang ingin disampaikan oleh PKB dengan pilihan mendorong Ketumnya, hanya pada posisi wakil Presiden, dengan harapan nilai-nilai ini akan menjadi legacy bagi generasi selanjutnya dalam memandang kekuasaan. Bahwa ada perasaan dan hati manusia lain yang harus di pertimbangkan, bukan hanya sekedar mendorong dan mengantarkan Ketumnya untuk meraih posisi yang tinggi dalam pemerintahan. Ada Perasaan dan hati Presiden Jokowi dan keluarganya, ada perasaan dan hati seluruh loyalis Presiden jokowi termasuk mentri-mentri Presiden Jokowi yang beberapa di antaranya juga merupakan kader Partai PKB yang menjadi pertimbangan.

Akan berbeda ceritanya jika pemilu 2019 adalah masa ahir pemerintahan presiden jokowi di priode ke2, maka tentunya PKB pasti dengan percaya diri mendorong Ketum nya untuk maju sebagai Presiden.

PKB memang menunjukkan harapan jelas agar Ketumnya bisa di “pinang” sebagai wakil presiden oleh Presiden Jokowi. Untuk bisa bersama-sama melakukan dan mewujudkan banyak hal untuk Indonesia. Akan tetapi, ibarat “gadis cantik “ yang cerdas dan sadar akan seberapa besar potensi diri nya, maka PKB pasti menunjukkan ketertarikan cukup pada presiden jokowi terlebih dahulu, sebelum membuka hati dan komunikasi dengan kandidat calon presiden lain. karna PKB menghargai hubungan koalisi dalam pemerintahan dan hubungan personal serta emosional yang sudah terbangun antara Presiden Jokowi dengan Cak Imin(PKB) selama ini.

Kecuali jika Cinta PKB pada Presiden Jokowi ternyata hanya bertepuk sebelah tangan, maka tentunya PKB pasti akan segerah move on dari cinta lama, dan akan berusaha menemukan cinta baru yang bisa bersinergi bersama untuk memberikan yang terbaik untuk Bangsa dan Negara ini kedepan.

Pilihan menjadi wapres Presiden jokowi yang di harapkan kader PKB untuk Ketumnya, saya rasa itu bukan karna PKB merasa kurang percaya diri untuk mendorong Ketum nya sebagai Presiden di Republik ini. Pilihan Sikap PKB ini sepertinya lebih pada keinginan memberikan legacy bagi generasi muda bangsa ini, bahwa menghargai Presiden sebagai pemimpin tertinggi Bangsa ini harus di lakukan, oleh semua pihak. Menempatkan diri sebagai rival jokowi adalah pilihan terahir bagi PKB. Membaca banyak statment yang perna di sampaikan oleh Ketum PKB di media-media, dalam pandangan Cak Imin dan PKB, pemerintahan presiden jokowi sudah berada di rel yang benar. Maka menjadi sangat logis jika PKB mengharapkan dan mendorong Ketum nya untuk bersanding dengan Presiden jokowi di pemilu 2019 nanti.

Pemerintahan Presiden jokowi bukan pemerintahan tanpa cela, ada beragam isu-isu panas yang bisa di gelindingkan oleh banyak pihak untuk membuat pemerintahan Presiden jokowi berhenti di 2019. Namun semua pihak juga harus berani mengakui dengan jujur bahwa kinerja pemerintah Jokowi ini bukanlah pemerintahan dengan rapot buruk. Memang belum maksimal, karna begitu beragamnya kompleksitas persoalan di tengah bangsa yang sedang tumbuh dan berkembang seperti di Indonesia saat ini. 

Dalam pandangan saya, Pemerintahan Presiden Jokowi perlu diberikan kesempatan kembali untuk melanjutkan semua yang sudah dilakukan selama ini. Akan tetapi, ada beberapa catatan yang tentunya yang harus menjadi perhatian serius oleh presiden jokowi dan tim 2 priodenya. Sebagai negara dengan mayoritas penduduk muslim, maka sudah sewajarnya, jika mayoritas muslim menghendaki para pemimpin nya adalah pribadi yang memiliki pengetahuan keislaman cukup dan mendapatkan dukungan kuat dari para Kiyai, habaib serta ulama. Dan keberpihakan pemerintah pada rakyat pribumi dalam persoalan kemandirian pangan, ekonomi rakyat dan tenaga kerja ini juga merupakan point-point penting yang akan menjadi penentu pemerintahan presiden jokowi akan terhenti di priode ini atau akan berlanjut di priode berikutnya.

Mengutip pernyataan Cak Imin dalam salah satu tayangan program TV, tepatnya program mata Najwa belum lama ini, Cak Imin memiliki jargon dalam berpolitik, bahwa Politik itu harus di lakukan dengan riang gembira. Saya percaya, Pribadi yang memandang Politik ini sebagai bagian dari aktivitas yang harus di lakukan dengan riang gembira, pastinya akan berusaha menjaga hati dan perasaan pihak-pihak lain agar tidak merasa di tersakiti apalagi sampai merasa terhianati oleh kawan-kawan mitra koalisinya sendiri.

Politik riang gembira ala Cak Imin mungkin bisa menjadi cara, untuk memperkenalkan politik dengan wajah yang berbeda pada generasi muda. Untuk menghadirkan ketertarikan kaum muda pada dunia politik, agar tidak menjadi generasi muda yang apatis pada situasi bangsa dan negaranya, karna memandang politik sebagai sesuatu yang buruk dan hanya menjadi pilihan pribadi-pribadi tua dan serius.

Politik riang gembira ala Cak Imin,bahkan  mungkin bisa menjadi menjadi solusi untuk kampanye besar KPU RI, dalam rangka peningkatan partisipasi publik dalam pemilu.

Mengamati warna warni mozaik yang lahir dari pikiran para Kiyai, ulama, santri-santri NU dan kawan-kawan politisi baik muslim maupun Non muslim yang ada bersama PKB, memang selalu menarik. PKB selalu punya cara sendiri untuk menjawab setiap persoalan bangsa dan negara, namun pasti memiliki pesan yang dalam untuk menujukan cara berdakwa dengan nilai-nilai keislaman itu sebaiknya, tidak dilakukan dengan cara yang keras apa lagi kasar. Nilai-nilai keislaman harus senantiasa di sampaikan dengan kesantunan, agar bisa menjadi legacy bagi generasi berikutnya dalam merawat keberagaman yang ada di tengah bangsa. Kekuasaan bukanlah segala-galanya, tapi kebersamaan dengan riang gembira mengurusi bangsa dan negara demi menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat adalah tujuan.

Jabar, menjelang dini hari, di 21 feb 2018.

Damailah dan Jayalah Bangsaku, Sejahterahlah Rakyatnya...😊🙏🏻

IDENTIFIKASI BIDANG GELINCIR TANAH LONGSOR DENGAN METODE GEOLISTRIK DI PERBUKITAN GAMPA KALIMANTAN SELATAN

Selasa, 23 Februari 2016 · 0 komentar

TIPE : JURNAL
JUDUL : IDENTIFIKASI BIDANG GELINCIR TANAH LONGSOR DENGAN METODE GEOLISTRIK DI PERBUKITAN GAMPA KALIMANTAN SELATAN

Abstrack:

Identifikasi bidang gelincir tanah longsor telah dilakukan di Perbukitan Gampa Kalimantan Selatan dengan menggunakan metode geolistrik tahanan jenis konfigurasi Dipole-Dipole. Penelitian ini dilakukan pada 3 titik lokasi pengukuran dimana lintasan 1 dan 2 melintasi jalan trans-Kalimantan, sedangkan lintasan 3 sejajar lintasan 1 dengan jarak ± 50 m. Masing-masing panjang lintasan 100 m dengan spasi elektroda 5 m. Pengolahan data dari hasil pengukuran dilakukan dengan menggunakan softwere Res2Dinv. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa di lokasi penelitian teridentifikasi litologi antara lain tanah lempungan, lanauan, pasiran dengan batuan dasar berkekar terisi tanah lembab, dan batuan dasar tak lapuk. Bidang gelincir diduga terdapat pada lapisan batuan dasar tak lapuk dengan nilai tahanan jenis 30622,5 – 50925 Ωm. Tipe pergerakan tanah longsor daerah penelitian merupakan tipe landslide dengan struktur bidang gelincir tipe rotasi hingga rotasi-translasi.

Kembali mempekerjakan jari-jari di keyboard notebook

Minggu, 18 Agustus 2013 · 0 komentar



Sudah sangat lama saya sudah tidak mengotak-atik blog ini dan melakukan rutinitas posting artikel, ternyata ada kebanggaan tersendiri juga punya aset pribadi yang terus tetap ada walau lama tidak di urus. Sekarang mungkin waktu yang tepat untuk memulainya kembali mempekerjakan jari-jari pada keyboard notebook, melahirkan artikel-artikel baru yang berisi sesuatu yang insyaallah bermanfaat bagi adik-adik mahasiswa yang sedang memerlukan bahan tambahan buat tugas, artikel, laporan atau bahan sekedar baca-baca. Agar lebih semangat, saya mencoba memberikan tampilan baru blog saya
  http://pariadi-science.blogspot.com/
 
walaupun masih menggunakan blogspot karena lebih mudah di temukan di pencarian google, gratis dan nyaman.



Asal Mula Logging

Selasa, 23 April 2013 · 0 komentar

Asal mula logging pertama kali dicatat oleh Pechelbronn pada tanggal 5 September 1927 di mana H. Doll dan Schlumberger bersaudara (dan beberapa orang lainnya) membuat pengukuran tahanan jenis dalam di suatu tempat di Alsace. Kegiatan itu dilakukan dengan perangkat dasar (a sonde) yang terdiri dari sebuah silinder bakelite dengan beberapa elektroda logam di bagian luarnya. Kemudian menyambungkan perangkat tersebut dengan kabel/kawat ke permukaan, sehingga memberikan gambaran wireline logging. Wireline logging ini mengacu pada kabel lapis baja dimana alat ukur diturunkan dan diambil dari sumur bor dimana sejumlah alat lain terisolasi kabel terlindung di bagian dalam kabel, menyediakan daya listrik perangkat dan sarana untuk transmisi data ke permukaan. Baru-baru ini, perangkat ini telah dikemas dalam drill collar, dan pentransmisian dilakukan melalui mud columb. Prosedur ini dikenal sebagai logging ketika pengeboran atau logging while drilling (LWD).

The birth of logging can be dated to the first recorded event at Pechelbronn on September 5, 1927 where H. Doll and the Schlumberger brothers (and a few others) made a semicontinuous resistivity measurement in that tired old field in Alsace. The operation was performed with a rudimentary device (a sonde) consisting of a bakelite cylinder with a couple of metallic electrodes on its exterior. Connecting the device to the surface was a cable/wire, thus providing us with the term wireline logging. Wireline refers to the armored cable by which the measuring devices are lowered and retrieved from the well and, by a number of shielded insulated wires in the interior of the cable, provide for the electrical power of the device and a means for the transmission of data to the surface. More recently, the devices have been encapsulated in a drill collar, and the transmission effected through the mud column. This procedure is known as logging while drilling (LWD).

Akan dilanjutkan pada artikel berikutnya
Will continue in the next article

Sumber : Darwin V. Ellis & Julian M. Singer, 2008, Well Logging for Earth Scientists 2nd Ed. Ebook.

Masukan dan atau pertanyaan silahkan berikan di kolom komentar!





View blog authority